Penanganan Hasil Selepas Panen hingga Penjualan Tanaman Selada Organik

7. Cara Panen Selada

Tanaman selada dapat dipanen pada umur 23 bulan dari waktu menabur (menyebar) benih atau tergantung varietas, tipe dan juga ciri-ciri ketuaan dari tanaman tersebut.

Beberapa ciri tanaman selada siap dipanen disajikan pada tabel berikut:

Cara memanen selada adalah dengan mencabut seluruh bagian tanaman bersama akar-akarnya atau dengan jalan memotong pangkal batang tanaman di atas tanah. Hasil panen per satuan luas lahan tergantung varietas selada yang ditanam serta jarak tanamnya. Jenis selada berkrop dapat menghasilkan antara 25-40 ton/hektare, sedangkan selada daun antara 15-30 ton/hektare.

8. Penanganan Pascapanen Selada

Penanganan hasil selepas panen meliputi kegiatan:

a. Pengumpulan

1) Hasil panen ditampung (dikumpulkan) di suatu tempat yang teduh dan nyaman.

2) Tujuan pengumpulan produksi dl suatu tempat ini untuk memudahkan kegiatan penanganan berikutnya dan menekan kerusakan atau susut (losses).

b. Pembersihan

1) Daun-daun luar (daun tua) dibuang dan hanya disertakan beberapa helai saja (Selada krop), sedangkan untuk selada daun, selada batang, hanya membuang beberapa helai daun tua atau rusak.

Selada yang sudah dibersihkan dari daun daun luarnya segera dicuci bersih dalam air yang mengalir atau disemprotkan, kemudian ditiriskan.

c. Pengkelasan

Hasil panen selada dikelompokkén menurut bentuk, ukuran atau beratnya, sesuai dengan permintaan pasar (konsumen). Pasar lokal biasanya meminta produksi yang memenuhi persyaratan diameter krop antara 10 cm – 15 cm, bebas dari noda-noda hitam, dan masih segar.

d. Pewadahan (pengemasan)

Untuk tujuan pemasaran jarak jauh, selada biasanya dikemas (diwadahi) dalam keranjang plastik atau karung goni yang diberi ventilasi, kemudian disimpan di tempat atau ruangan dingin.

e. Penyimpanan

Agar produksi selada tahan dalam keadaan segar selama beberapa waktu, sewaktu penyimpanan sebaiknya ditempatkan di ruang dingin atau diberi remukan es.

Produksi selada yang sudah dikemas rapi dan disimpan di ruangan (wadah) yang suhunya dingin, siap diangkut dan dipasarkan.

Jenis Penyakit Selada Organik dan Penanggulangannya

Penyakit daun kuning

Penyakit daun kuning disebabkan oleh virus aster. Virus aster pertama kali ditemukan pada tanaman aster. Gejalanya yaitu daun yang masih muda menjadi kuning.

Pada tanaman yang telah membentuk krop, daun bagian dalam mula-mula berwarna kuning, kemudian berubah putih, Serangan pada saat masih muda, tanaman tidak membentuk kepala. Penyebar virus ini kemungkinan oleh kutu aphid atau belalang.

Pada umumnya, virus belum dapat diberantas. Upaya yang dapat dilakukan hanya dengan pencegahan, seperti mencabut dan membakar tanaman yang sakit, membersihkan tangan setelah memegang tanaman sakit, membersihkan gulma, dan mengendalikan kutu-kutu yang menjadi vektor.

Penyakit mosaik sebagai penyebabnya adalah virus mosaik selada (lettuce mosaic virus, LMV). Serangannya ditandai dengan daun yang berwarna mosaik atau berwarna-warni antara hijau, hijau muda, hijau pucat, dan kuning pucat.

Virus ini umumnya disebarkan oleh kutu aphid. Beberapa cara pengendalian yang dapat dilakukan yaitu tanaman sakit dicabut dan dibakar, vektor (kutu aphid) diberantas, gulma dibersihkan, dan ditanamnya benih yang bebas virus.

Cara Merawat Tanaman Selada Organik dan Penanggulangannya

Penyakit bercak daun

Bercak daun organisme penyebabnya adalah cendawan Cercospora longissima Sacc. atau C. lactucae Tev. Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia. Gejala serangan penyakit ini mula-mula berupa bercak kecil kebasah-basahan pada tepi daun, kemudian meluas menyerang jaringan tanaman ataupun daun warnanya berubah menjadi kecokelat-cokelatan, dan banyak titik hitam yang merupakan konidium jamur.

Penyakit bercak daun dapat dikendalikan dengan cara mengambil, mengumpulkan, darimembakar daun yang sakit serta melakukan rotasi tanaman. Penyakit busuk basah (busuk lunak) pPenyakit ini disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora pv carotovera (Janes) Holland.

Bakteri ini berkembang biak pada suhu di 25 – 30° C dan kelembapan yang tinggi. Gejala serangannya antara lain tanaman menjadi busuk basah, berwarna cokelat kehitaman. Serangan tidak hanya pada daunnya saja, tetapi juga batang sehingga tanaman menjadi roboh. Bagian yang busuk akan mengeluarkan bau yang tidak enak.

Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1) Jika serangannya ringan, selada dipanen untuk dikonsumsi. Bila serangannya berat, tanaman dikumpulkan dan dibakar atau diletakkan di tengah-tengah kompos yang panas.

2) Dilakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sefamili.

Cara Pemeliharaan Tanaman yang telah ditanam perlu dirawat agar tumbuh dengan subur.

Perawatan selada yang dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Apabila tanah kering, segera dilakukan penyiraman.

b. Jika tidak menggunakan mulsa, daun tanaman dibersihkan dari tanah setelah hujan lebat. Adanya tanah di permukaan daun dapat mengganggu fotosintesis dan dapat menjadi perantara bibit penyakit.

c. Penyulaman dilakukan jika terdapat tanaman yang mati.

d. Penyiangan dilakukan jika banyak gulma di sekitar tanaman.

e. Penggemburan dan pembubunan dilakukan jika tanah kelihatan padat atau akar mulai kelihatan di permukaan. Kegiatan ini dilakukan secara hati-hati jangan sampai merusak akar.

f.  Jika belum terlihat subur, tanaman dapat dipupuk dengan air septic tank atau air limbah ternak.

Hama dan Penyakit Tanaman Organik Selada dan Cara Menanggulanginya

e. Penyakit busuk hitam mumi

Penyebab penyakit ini cendawan Rhizoctonia solani Kiihn. Penyakit yang menyerang di pesemaian akan menyebabkan semai roboh (dumping off). Tanaman dewasa yang terserang akan terlihat adanya bercak sedikit cekung dan berwama karat pada tangkai dan tulang daun.

Adapun pada daunnya ada busuk cokelat berlendir. Serangan yang hebat dapat menyebabkan tanaman mati, berwarna hitam, dan mengering sehingga seperti mumi. Penyakit ini akan berkembang dengan cepat bila kelembapan tinggi dan suhu udara panas.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1) Pada saat pengolahan, tanah dibiarkan beberapa hari setelah dicangkul supaya terkena sinar matahari sehingga bibit penyakit mati.

2) Drainase perlu diperhatikan agar tidak ada genangan air.

3) Tanaman yang sakit dikumpulkan dan dibakar

4) Lakukan rotasi tanaman dengan selang waktu yang cukup lama, misalnya selada kacang tanah jagung selada.

f. Penyakit busuk daun

Penyebab penyakit busuk daun adalah cendawan Bremin lactucae Regel. Cendawan ini akan cepat berkembang pada saat kelembapan tinggi dan banyak hujan. Gejalanya, pada daun terlihat bercak-bercak berwarna kuning muda sampai tua Kemudian, bercak-bercak akan saling berhubungan dan berwarna cokelat.

Beberapa cara mengendalikan penyakit busuk daun, yaitu membiarkan tanah beberapa hari setelah dicangkul, menanam varietas yang resisten, membersihkan gulma, mengumpulkan dan membakar tanaman yang sakit, serta melakukan rotasi tanaman.

Cara Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Organik Selada

Beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman selada sebagai berikut:

a. Ulat tanah

Tubuh ulat tanah berwarna hitam atau hitam keabu-abuan, aktif pada malam hari dan bersifat pemangsa segala jenis tanaman. Pada siang hari, ulat tanah bersembunyi di bawah tanah atau sisa-sisa tanaman.

Menyerang tanaman dengan cara memotong pangkal batang atau titik tumbuh, sehingga patah atau terkulai. Serangan ulat tanah umumnya terjadi pada musim kering (kemarau), dan merusak tanaman yang masih muda (berumur 30 hari setelah tanam). Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara, mencari dan mengumpulkan secara manual ulat tanah di sekitar tanaman yang terserang, kemudian langsung dibunuh.

b. Ulat jengkal (Trichoplusia ni Hubner)

Ulat ini disebut ulat jengkal karena jika berjalan melengkung seperti mengukur panjang dengan jengkalan jari. Ulat mulai memakan daun bagian bawah, kemudian makan daun-daun muda Pengendalian ulat jengkal ini hanya dapat diambii secara manual, lalu dimatikan.

c. Siput

Siput merupakan salah satu hama yang memakan daun selada. Oleh karenanya adanya siput di pertanaman selada perlu diambil dan dimatikan.

d. Kutu aphid hijau (Myzds persicae Sulz.)

Kutu daun ini menyerang segala macam tanaman dan tersebar di seluruh dunia (kosmopolitan). Serangan kutu daun dapat menyebabkan daun menjadi kuning, mengeriting, rapuh, dan tanaman menjadi kerdil. Karena kotorannya berasa manis, daun banyak didatangi semut dan jamur jelaga sehingga daun berwama hitam. Dalam kondisi seperti ini, proses fotosintesis akan terhambat. Pengendalian kutu daun dengan cara sebagai berikut:

1) Cara mekanis dengan memijit kutu daun hingga mati.

2) Penggunaan mulsa plastik hitam perak atau kertas aluminium dapat mengusir kutu karena mulsa akan memantulkan sinar sehingga kutu akan silau.

3 Secara biologis, dilepas kumbang macan (lembing macan) yang merupakan predator larva dan kutu dewasa. Bila kelembapan tinggi, kutu banyak yang mati diserang cendawan.

Cara Mengolah Tanah untuk Penyiapan Bibit sampai Pindah Bibit Tanaman Organik Selada

2. Pengolahan Tanah dan Pembuatan Bedengan Bersamaan dengan kegiatan penyiapan bibit di pesemaian, lahan untuk kebun selada segera diolah. Caranya, tanah dicangkul atau dibajak sedalam 30 cm dan dibalikkan, kemudian biarkan dikering anginkan selama 15 hari.

Berikutnya, tanah diolah kembali sambil membentuk bedengan (untuk sistem bedengan) atau cukup diratakan saja (sistem alur atau gulud) asalkan di sekelilingnya dibuatkan parit-parit pembuangan air selebar 40 – 60 cm dan dalamnya 50 – 60 cm. Jika dibentuk bedengan, ukuran lebarnya antara 80 – 120 cm dan tingginya 30 – 40 cm, sehingga setiap bedengan dapat ditanami 3 – 5 barisan tanaman, dan jarak antar bedengan 30 – 40 cm.

Tata cara penyiapan lahan untuk bertanam selada disajikan. Sambil merapikan bedengan ataupun alur-alur (lebar dan dalamnya 20 – 25 cm), tambahkan pupuk kandang sebanyak 10 – 20 ton/hektar dicampur merata dengan tanah. Penyelesaian akhir dari penyiapan lahan ini berupa hamparan lahan yang dibuatkan alur-alur pada jarak antar alur 25-30 cm, atau bedengan-bedengan selebar 80-120 cm.

3. Pemberian pupuk dasar dan kemudian di atas dengan pupuk utuhan pupuk/ha. Apablla tanam Setelah bedengan dibuat, ke bedengan ditaburkan dan dicampur kompos atau pupuk kandang. Keb 20 ton organik tersebut sekitar 10 memungkinkan, bedengan disiram air kompos, atau air limbah ternak.

Sosok tanaman selada tidak sebesar kubis sehingga jarak tanam yang digunakan 20 -25 cm x 20 -25 cm. Apabila akan menanam secara polikultur selada dengan daun bawang, pola dan jarak tanam dapat dibuat seperti pada gambar yang diperlihatkan di atas.

4. Cara dan Waktu Penanaman

Waktu tanam yang paling baik untuk selada adalah pada akhir musim hujan (Maret/April). Penanaman ini dilakukan pagi atau sore hari. Penanaman selada dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

a. Sebar benih langsung

Caranya, pada lahan yang telah dipersiapkan (sistem bedengan atau alur-alur) langsung menyebar benih menurut barisan atau alur secara merata, kemudian segera ditutup dengan tanah tipis.

b. Pindah tanam bibit

Bibit selada yang dipindahtanamkan dapat berupa bibit cabutan ataupun bibit dalam koker (bumbung) dari daun pisang. Cara penanamannya bibit langsung ditanam pada alur-alur (sistem alur) dengan jarak antartanaman 20 cm dan jarak antar alur 25 cm atau pada lubang tanam (sistem bedengan) pada jarak tanam 25 cm x 40 cm atau 20 cm x 25 cm atau 25 cm x 25 cm. Selesai penanaman, segera tanahnya disiram atau dileb hingga cukup basah (lembap).

Urutan Cara Bertanam Selada secara Organik

c. Mengatap pesemaian

Di sisi-sisi bedengan, pesemaian bagian Tim dan Barat, tancapkan tiang-tiang bambu. Tinggi tiang bambu di bagian Timur antara 100 15 cm, sedangkan di bagian Barat antara 60 8 cm. Kemudian pasang palang-palang dari bilah bambu yang arahnya membujur dan juga melintan kemudian ikat erat-erat dengan tali bambu atau tali rafia.

Selanjutnya, pasang atap pesemaian dari lembar plastik bening (transparan) atau anyaman daun kelapa. Posisi atap pesemaian diatur menjulur melampaui pinggiran bedengan pesemaian untuk mencegah cipratan air hujan. Bentuk tempat pesemaian yang dimaksud disajikan pada gambar berikut ini.

d. Menyemai benih

Benih selada direndam dulu dalam air dingin atau air hangat-hangat kuku selama 15 menit, lalu ditiriskan (dikeringkan) kembali. Kemudian, bedengan pesemaian diairi (disiram) hingga cukup basah atau lembap.

Setelah itu buatlah alur-alur dangkal dengan air atau jari telunjuk sedalam 1/2 1 cm dan jarak antar alur 10 20 cm. Sebarkan benih dalam alur-alur secara merata, kemudian tutup dengan tanah tipis dan halus. Kemudian, siram permukaan bedengan pesemaian dengan menggunakan sprayer atau gembor (embrat) yang berlubang-lubang kecil dan halus.

e. Pemeliharaan bibit Selama 1 bulan di pesemaian.

Bibit dipelihara secara intensif; terutama rutin melakukan penyiraman dan pengawasan terhadap serangan hama maupun penyakit. Bibit selada dapat pula disapih ke dalam bumbung (koker) dari daun pisang saat berumur10 -15 hari sejak semai.

Keuntungan cara penyapihan bibit ke dalam bumbung ini antar lain sewaktu dipindahtanamkan ke kebun tidak mengalami kelayuan atau terhentinya pertumbuhan. Cara penyapihan bibit selada, mula-mula buat koke dari daun pisang dengan ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm, kemudian isi dengan media campuran tana halus dan pupuk kandang halus (1:1) hingga 90 % penuh.

Sebelum bibit disapih, siram dulu tanah pesemaian, lalu bibit diangkat dengan solet bambu bersama akar dan tanahnya. Bibit ini satu per satu dipindahtanamkan ke dalam bumbung (koker) dan setelah lima hari kemudian dipupuk Nitrogen (Urea 10 gram/10 liter air yang disiramkan pada media semai. Setelah bibit berdaun 3 -5 helai, tiba saatnya di pindahtanamkan ke kebun.

Cara Bertanam Selada secara Organik

Seperti tanaman lainnya, tanaman selada juga dapat ditanam secara monokultur maupun polikultur.Pada penanaman polikultur, di antara tanaman selada dapat ditanam daun bawang, kapri, atau tanamn jenis lain.

Penanaman selada dengan daun bawang dapat dibuat pola berselang-seling karen keduanya dipanen pada umur yang bersamaan (3 – 4 bulan). Apabila ditanam bersama kapri tanaman selada ditanam di pinggir kapri karen tanaman selada lebih pendek dan lebih cepat panen.

1. Penyiapan Benih dan Pembibitan

Selada diperbanyak dengan biji-bijinya. Untuk lahan seluas 1 hektare diperlukun benih selada 250 gram atau pada kisaran 400 – 600 gram, tergantung varietas dan jarak tanamnya.

Benih selada dapat langsung disebar di atas bedengan (sistem tanam atau sebar langsung). Cara ini memiliki kelebihan yaitu menghemat waktu, tenaga, biaya, dan tidak memerlukan keterampilan yang khusus. Kelemahannya, menyulitkan pemeliharaan tanaman yang masih kecil (stadium bibit), dan pada waktu tanaman sudah berumur 1 1/2 bulan sejak sebar, benih perlu penjarangan.

Cara yang dianjurkan adalah disemai dulu di lahan pesemaian selama1 bulan atau bibitnya telah berdaun 3 – 5 helai. Kelebihan cara ini antara lain dapat menghemat benih, memudahkan pemeliharaan bibit karena terkonsentrasi di lahan pesemaian saja, dan dapat memilih atau menyeleksi bibit yang baik sewaktu dipindahtanamkan ke kebun.

Kelemahan cara disemai dulu, di antaranya memerlukan biaya, tenaga dan waktu tambahan, serta keterampilan khusus dalam penyiapan bibit di pesemaian. Meskipun demikian, para petani kubis-kubisan sudah terbiasa melakukan pembibitan di pesemaian.

Tahapan dan tata cara penyiapan bibit selada di lahan pesemaian adalah sebagai berikut:

a. Memilih tempat pesemaian

Pilih lahan atau tempat yang tanahnya subur gembur, ringan, tidak terlindung, dan dek. Dengan sumber air serta mudah dijangkau dalam pengawasan.

b. Membuat bedengan pesemaian

Bersihkan tanah dari rumput-rumput liar dan akar-akar tanaman pertanaman sebelumnya. Kemudian tetapkan ukuran bedengan pesemaian selebar 100 – 120 cm dan panjangnya tergantung keadaan lahan atau berdasarkan kebutuhan. Olah tanah dengan cangkul sedalam 30 – 35 c sampai strukturnya gembur.

Pada tanah-tanah liat dapat ditambahkan pasir sebanyak 1 – 2 kg/m2 lahan. Kemudian campurkan pupuk kandang yang telah matang dan halus (diayaki) 1 kg/m2 bersama tanah sambil dibalikkan serta diratakan.

Syarat Tumbuh Tanaman Selada Organik

Kebanyakan daerah di Indonesia sesuai untuk daerah penanaman selada karena keadaan lingkungannya. Adapun keadaan lingkungan yang menunjang untuk pertumbuhan selada, yaitu iklim dan tanah, berikut ini akan dijelaskan tentang iklim dan tanah.

1. Syarat lklim

Tanaman selada membutuhkan lingkungan tempat tumbuh yang beriklim dingin dan sejuk, yakni pada temperatur (suhu udara) antara 15°20° C. Di daerah yang temperaturnya tinggi (panas), tanaman selada tipe kubis (berkrop) akan gagal membentuk krop, atau kaléupun kropnya terbentuk berukuran kecil-kecil.

Meskipun demikian, dengan adanya kemajuan teknologi di bidang perbenihan, dewasa ini telah banyak diciptakan varietas selada yang tahan atau toleran terhadap suhu panas.

Di Indonesia, selada dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan). Hal yang terpenting adalah memerhatikan pemilihan varietasnya yang sesuai dengan lingkungan setempat. Untuk dataran rendah sampai menengah, sebaiknya dipilih selada varietas yang “heat tolerant” (tahan terhadap suhu panas) seperti varietas kaiser, ballade, dan gemini.

Persyaratan iklim lainnya adalah faktor curah hujan. Tanaman selada tidak atau kurang tahan terhadap hujan lebat. Oleh karena itu, penanaman selada dianjurkan pada akhir musim hujan.

Di beberapa daerah produsen sayuran yang mulai banyak mengembangkan selada, tanaman ini tumbuh dan berproduksi pada ketinggian antara 600 – 1.200 meter di atas permukaan laut (de) seperti di Facet dan Cipanas (Cianjur) serta Lembang (Bandung).

Syarat tumbuh demikian identik untuk tanaman kubis dan petsai.

2. Syarat Tanah

Pada dasarnya tanaman selada dapat ditanam di lahan sawah maupun tegalan. Tanah yang ideal untuk tanaman selada adalah Iiat berpasir. Di Indonesia tanaman ini cocok ditanam pada tanah Andosol maupun Latosol. Syaratnya, tanah tersebut harus subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, tidak mudah menggenang (becek), dan pH-nya antara 5,0 6,8.

Tanaman selada umurnya relatif pendek dan sistem perakarannya dangkal. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pertumbuhan atau produksi yang maksimal, perlu pengelolaan lahan yang sempurna. Pada tanah-tanah yang mudah becek (drainasenya jelek), sering terjadi pembusukan akar-akar tanaman, sehingga dapat menurunka produksinya. Khusus di lahan-lahan sawah sebaiknya dipersiapkan dengan sistem surjan yakni tanah bedengan ditinggikan.

Cara Menanam Selada Secara Organik

Seperti halnya sayuran daun lainnya, selada sudah umum dimakan mentah sebagai lalab dan dibuat salad atau disajikan dalam berbagai bentuk masakan Eropa maupun Cina.

Jarang sekali selada disayur masak karena rasanya menjadi kurang enak dan sulit dicernakan.

Selain sebagai bahan sayuran yang memiliki cita rasa yang khas, selada juga mengandung gizi cukup tinggi, terutama sumber mineral. Kandungan dan komposisi gizi dalam sayuran selada disajikan pada tabel berikut ini.

Mengonsumsi selada berfungsi ganda, yakni sebagai bahan pangan bergizi dan berguna untuk mendinginkan perut. Hippocrates termasuk salah seorang yang menganjurkan selada sebagai makanan pemelihara kesehatan tubuh manusia.

A. Varietas Selada

Tanaman selada (Lactuca sativa) dalam klasifnkasi tumbuhan tergolong famili Compositae (Asteraceae). Salada mempunyai empat varietas, antara lain sebagai berikut:

1. Selada kepala (Lactuca sativa var. capitata L.)

Selada kepala sering disebut selada kol. Varietas selada ini memiliki daun yang kompak seperti kepala atau kol, hanya Iebih kecil, dan kurang keras. Daunnya lebar, hampir bulat, halus, dan lembut.

Umumnya, selada ini hanya membentuk kepala jika ditanam di dataran tinggi. Ada satu varietas yang bisa membentuk kepala di dataran rendah, yaitu Great Lakes. Selada kepala ini ada 2 macam yaitu:

a. crisphead, berdaun keriting, misalnya Great Lakes, Pennlake, New York, Imperial;

b. butterhead, daunnya tidak keriting, misalnya Sa\amander, Big Boston, White Boston.

2. Selada daun atau selada kriting (Lactufa sativa var. crispa L.)

Tanaman ini membentuk roset yang longgar tldak membentuk krop, daunnya menyerupai tekstur selada kepala dengan tepi berumbia. Umumnya, cara panen dengan memetik daun satu per satu. Contohnya Black Seeded Simpson, Early Curled Simpson, dan Grand Rapids.

3. Selada Batang (Lactuta sativa var. asparagina Bailey, sin L. sativa var. angustana Irish)

Selada ini mempunyai batang yang berdaging tebal sehingga dapat dikonsumsi. Adapun daunnya tidak dikonsumsi karena kasar dan tidak enak. Selada ini tidak membentuk krop, contohnya varietas Celtuse.

4. Selada silindris (Lactuca sativa var. longifona Lam.)

Selada ini disebut juga selada kerucut, selada romain, dan selada cos. Selada ini membentuk krop yang bentuknya silinder atau kerucut. Daunnya memanjang, ujungnya lengkung, tekstur keras, kaku, dan agak kasar.